Informasi Aceh

Lagi trending

booming

Ad Placement

opini

Lagi trending

Rabu, 22 Mei 2024

World Water Forum 2024 Momentum Implementasikan Ekonomi Biru

Bali - Berdasarkan Peta Jalan Ekonomi Biru Indonesia atau Indonesia Blue Economy Roadmap 2023-2045, Pemerintah memproyeksikan ekonomi biru dapat menciptakan 12 juta lapangan kerja baru pada 2030 serta penyediaan 40 kali besar energi baru terbarukan (EBT) pada 2050.

Deputi Bidang Ekonomi, Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, gelaran World Water Forum 2024 di Bali dapat menjadi ajang kolaborasi antarnegara untuk mulai menerapkan ekonomi biru atau blue economy.

“Stakeholders, mitra pembangunan, dan negara-negara lain bekerja sama dengan Indonesia dalam mewujudkan tindakan konkrit untuk (penerapan) blue economy yang dapat memberikan kesejahteraan kepada rakyat, serta menjadi mesin pertumbuhan perekonomian Indonesia,” kata Amalia dalam acara Blue Economy Innovation: For Shared Prosperity World Water Forum Parallel Event 2024 di Nusa Dua, Bali.

Amalia mengatakan, ekonomi biru didesain untuk mendukung agenda transformasi ekonomi guna mengantarkan Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle-income trap

“Karena Indonesia harus keluar dari middle-income trap, tanpa sumber pertumbuhan ekonomi baru maka tingkat pertumbuhan yang minimal 6 persen dalam 20 tahun ke depan tidak akan tercapai. Jadi Indonesia benar-benar harus aktif mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru. Oleh karena itu, ekonomi biru dinilai mampu menjadi salah satu mesin penggerak pertumbuhan ekonomi yang baru,” ujar Amalia.

Hal yang sama diungkapkan Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Bappenas Vivi Yulaswati berharap bahwa isu kelangkaan air dan sistem pengairan di pulau-pulau kecil turut menjadi pembahasan serius dalam ajang World Water Forum ke-10.

Ia juga menilai bahwa kolaborasi antar pihak dapat menjadi salah satu solusi dari permasalahan air yang disebabkan perubahan iklim. “Misalnya ketersediaan infrastruktur irigasi yang mampu mendukung budidaya perikanan akan sangat penting juga bagi kita di masa depan, tidak terbatas hanya pada pengairan rutin bagi para petani,” pungkas Vivi.

Indonesia terpilih sebagai tuan rumah WWF ke-10 dan mengusung tema utama a, Bali, Indonesia. Forum Air Dunia tahun ini mengangkat tema besar 'Water for Shared Prosperity'. Forum Air Sedunia tersebut berlangsung dari 18-25 Mei 2024.

Di WWF ke-10, Indonesia Tawarkan Pembentukan Lembaga Pengelolaan Air

Nusa Dua – WWF ke – 10 di Bali terus bergulir dan di BNDCC, Nusa Dua berlangsung Session Local and Regional Government Forum. Dalam acara tersebut, bergulir opsi agar sumber daya air di dunia bisa didorong untuk kemakmuran bersama melalui pembentukan lembaga khusus pengelolaan air.

Opsi tersebut digulirkan oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menjadi pembicara dalam Forum Session Local and Regional Government.

“Air itu harus diorientasikan untuk kemakmuran bersama, prosperity, untuk mewujudkan penggunaan air yang adil dan berkelanjutan, maka pemerintah pusat harus memiliki lembaga untuk menangani tata kelola air,” kata AHY.

Menurutnya, pembentukan lembaga yang dimaksudkan bisa belajar dari negara lain yang telah menerapkan lebih dulu. AHY mengatakan Pemerintah harus adaptif, terutama dalam memitigasi krisis air yang mungkin terjadi.

“Pemerintah pusat harus membentuk suatu lembaga yang memiliki kewenangan dan kapasitas untuk mengintegrasikan dan sinkronisasikan seluruh kebijakan strategis dan aksi yang terkait dengan pengelolaan air, ujar AHY di Singaraja Hall, BNDCC, Nusa Dua.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian memimpin forum pertemuan tingkat menteri atau Ministerial Meeting yang merupakan salah satu sesi dalam WWF ke -10. Forum ini dihadiri delegasi dari berbagai negara yang berkumpul untuk membahas tantangan dan solusi terkait pengelolaan air.

Dalam pertemuan ini, Indonesia menegaskan air berada di garis depan tantangan global saat ini dan masa depan dengan kombinasi pertumbuhan populasi, polusi, dan kenaikan suhu hingga menyebabkan kelangkaan air di berbagai tempat di dunia.

“Indonesia juga menyoroti dampak perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir yang membahayakan jutaan orang tanpa pengelolaan air yang berkelanjutan,” ujar Tito.

Para delegasi juga diajak untuk sepakat merumuskan komitmen dan menjadikan WWF ke-10 sebagai mercusuar yang memandu menuju kerja sama yang inklusif, berdampak, dan saling menguntungkan untuk melindungi generasi mendatang.

**

Mendukung Kesuksesan Indonesia Pimpin Aksi Nyata Lewat WWF ke-10

Oleh : Davina G

Indonesia sebagai tuan rumah World Water Forum (WWF) ke-10 tahun 2024 dinilai sukses menggelar rangkaian kegiatan dalam forum air dunia terbesar ini. Pemerintah pun juga terus berupaya menunjukkan kemampuan bahwa Indonesia memiliki aksi-aksi nyata dalam pengelolaan sumber daya airnya yang besar. Maka dari itu, perlu upaya bersama dari seluruh pihak agar hasil-hasil kesepakatan WWF ke-10 ini dapat diimplementasikan untuk kepentingan masyarakat di dunia.

Salah satu capaian pada forum WWF ke-10 adalah Indonesia berhasil menyusun daftar proyek terkait air yang menjadi andalan dari berbagai negara. Pemerintah Indonesia  melakukan inventarisasi 113 proyek di sumber daya air senilai USD9,4 miliar atau setara Rp150 triliun. Tujuan utama dari proyek tersebut menyangkut penyediaan air bagi masyarakat, hingga pengelolaan limbah domestik. Hal tersebut disampaikan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono di Word Water Forum Ke-10 Bali.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Panitia Nasional Penyelenggara World Water Forum ke-10, mengatakan bahwa proyek-proyek tersebut merupakan hasil deklarasi dari pertemuan tingkat Menteri pada acara WWF ke-10 Bali. Deklarasi tersebut diketahui berhasil di ikuti setidaknya 106 negara dan 27 organisasi internasional.

Menteri Basuki menjelaskan bahwa air merupakan kebutuhan fundamental bagi kehidupan manusia, karena disamping untuk kebutuhan konsumsi, kualitas air juga menentukan hasil dari produk pangan utama.

Forum Air Sedunia ke-10 atau World Water Forum ke-10 yang digelar pada 18—25 Mei 2024 di Nusa Dua, Bali juga menghasilkan Deklarasi Menteri yang menekankan tiga poin utama. Pertama, pendirian center of excellence untuk ketahanan air dan iklim guna mengembangkan kapasitas, knowledge sharing & pemanfaatan fasilitas yang unggul. Kedua dari Deklarasi Menteri adalah mengangkat dan mendorong isu pengelolaan sumber daya air secara terpadu pada pulau-pulau kecil. Meskipun dikelilingi perairan yang luas, Indonesia tetap memerlukan sistem kelola yang baik untuk mengatasi tantangan kualitas dan ketersediaan air bersih.

Sementara itu, poin ketiga, pengusulan Hari Danau Sedunia atau World Lake Day.  Danau merupakan sumber pasokan air yang menghidupi manusia sekaligus memiliki fungsi sosial dan ekonomi masyarakat. Peringatan Hari Danau Sedunia tidak sekadar simbolis, namun sebagai salah satu kunci utama untuk menjaga kelestarian danau di seluruh dunia.

Dalam penyelenggaraan World Water Forum ke-10 di Bali, terdapat tiga hal yang membedakan World Water Forum ke-10 dengan penyelenggaraan-penyelenggaraan sebelumnya. Pertama, baru kali ini pertemuan World Water Forum menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi (KTT), yang dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Kedua, untuk yang kali pertama World Water Forum menghasilkan deklarasi menteri. Ketiga, berhasilnya Indonesia menyusun daftar proyek terkait air yang menjadi andalan dari berbagai negara.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan bahwa para tamu dan delegasi peserta World Water Forum merasa sangat terkesan dengan penyelenggaraan World Water Forum ke-10 oleh Indonesia.

WWF ke-10 tahun 2024 di Bali, menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di kawasan Asia Tenggara yang menjadi tuan rumah forum air dunia tersebut. Tak hanya itu, kerja sama antara Indonesia dan World Water Council (WWC) disesuaikan dengan Kerangka Perjanjian untuk Penyelenggaraan World Water Forum atau Framework Agreement for the Organization of the 10th World Water Forum ke-10. Sedangkan tema yang diusung dalam forum WWF kali ini adal adalah "Water for Shared Prosperity" atau "Air untuk Kemakmuran Bersama."

Penyelenggaraan WWF ke-10 di Bali menjadi sangat penting, bukan hanya bagi Indonesia, namun juga bagi negara-negara lainnya untuk berbagi pengalaman dan inovasi dalam mengatasi tantangan pengelolaan air dan apa saja yang sudah berhasil dilakukan. Leadrship yang ditunjukkan Indonesia untuk mencari aksi nyata dalam menyelesaikan isu-isu air, mendapat pengakuan dari para peserta WWF ke-10 ini.

WWF 2024 ini bukanlah event untuk satu kementerian saja, tetapi event nasional bahkan internasional untuk mengangkat misi perairan baik kelautan, irigasi, lingkungan hidup, sanitasi, dan lainnya. WWF merupakan pertemuan internasional untuk Indonesia, jadi menurutnya penting untuk menyatukan komitmen dari seluruh pihak dalam menyukseskan WWF 2024. Hal ini dikarenakan penyelenggaraan WWF Ke-10 memberikan kesempatan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk dapat berbagai ide, praktik, dan solusi terbaik dalam menghadapi tantangan pengelolaan sumber daya air berkelanjutan.

Beberapa kesepakatan penting tersebut juga memiki nilai investasi. Firdaus Ali, Staf Ahli Menteri PUPR menyatakan bahwa beberapa perjanjian penting, baik dalam bentuk kerja sama bilateral maupun multilateral, bernilai triliunan rupiah. Firdaus juga menegaskan bahwa Indonesia mendorong agar output dan hasil akhir dari forum tersebut dapat diimplementasikan oleh negara-negara di seluruh dunia, baik dalam bentuk proyek maupun aksi nyata di lapangan.

Kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah dalam penyelenggaraan WWF 2024 di Bali menjadikan negara ini sebagai salah satu contoh utama di dunia dalam menawarkan solusi nyata terhadap tantangan dalam pengelolaan air. Selain itu, diharapkan juga bahwa acara ini akan mendorong pertumbuhan gagasan inovatif, pengetahuan, dan ide-ide kreatif dalam mengatasi masalah air yang dihadapi secara global.

)* Penulis merupakan Pegiat Forum Literasi Muda Batavia

World Water Forum ke-10 Ciptakan Peluang Investasi Dalam Negeri

Oleh Melinda Yusril )*

Gelaran World Water Forum (WWF) ke-10 di Bali adalah sebuah momentum penting bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan keberlanjutan air di masa depan. Forum ini tidak hanya sekadar menjadi wadah untuk berdiskusi tentang isu-isu air global, tetapi juga menjadi peluang berharga bagi Indonesia untuk menarik investasi yang berkelanjutan di sektor air.

Kehadiran forum ini menciptakan platform bagi Indonesia untuk memperlihatkan potensinya sebagai negara yang aktif dalam mengelola sumber daya air. Dengan menampilkan inisiatif-inisiatif terkait pengelolaan air yang berkelanjutan dan teknologi-teknologi terbaru dalam bidang ini, Indonesia dapat menarik perhatian investor yang tertarik untuk berkontribusi dalam pengembangan solusi-solusi inovatif.

Selain itu, dengan menjadi tuan rumah acara sebesar ini, Indonesia dapat memperkuat jaringan diplomatiknya dalam dunia keairan global. Hal ini bisa membuka pintu bagi kerja sama lebih lanjut dengan negara-negara dan organisasi internasional yang memiliki kepentingan serupa dalam pengelolaan air. Kerja sama ini tidak hanya akan menciptakan peluang investasi langsung, tetapi juga memperluas akses Indonesia terhadap sumber daya pengetahuan dan teknologi terbaru dalam pengelolaan air.

Keberhasilan dalam menggelar acara sebesar WWF di Bali juga akan meningkatkan citra Indonesia sebagai destinasi investasi yang menjanjikan. Dengan menunjukkan kemampuannya dalam mengorganisir acara internasional skala besar, Indonesia dapat menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di berbagai sektor ekonomi, termasuk sektor air.

Dalam konteks ini, pemerintah Indonesia perlu memanfaatkan momentum dari gelaran WWF ke-10 ini dengan menyusun strategi yang komprehensif untuk menarik investasi di sektor air. Langkah-langkah seperti penyediaan insentif fiskal, penyederhanaan regulasi, dan peningkatan infrastruktur akan membantu menciptakan lingkungan investasi yang kondusif bagi para investor.

Dalam sebuah kesempatan di rangkaian WWF ke 10, Presiden RI Joko Widodo mengajak miliarder asal Amerika Serikat Elon Musk untuk mengembangkan investasinya di Indonesia, yang mencakup perusahaan-perusahaan seperti SpaceX, Tesla, Neuralink, dan Boring.  Terkait dengan kerja sama Starlink yang telah berjalan, Presiden berharap Starlink dapat bersinergi dengan penyedia internet di Indonesia untuk menyediakan akses internet yang terjangkau, mengutamakan perlindungan konsumen, memberikan harga yang lebih murah untuk penggunaan layanan publik termasuk di puskesmas hingga sekolah terpencil di Indonesia.

Sementara itu, Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) menjelaskan bahwa WWF ke-10 telah menghasilkan sejumlah capaian, khususnya di bidang Investasi. Salah satunya adalah terkait kerja sama 113 proyek dengan nilai mencapai 9,4 miliar dollar AS atau sama dengan Rp.150,4 triliun.

Menurut Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, proyek yang dimuat di dalam kompendium tersebut merupakan proyek yang menjadi andalan bagi berbagai negara. Adapun sejumlah proyek tersebut adalah proyek percepatan penyediaan air minum bagi 3 juta rumah tangga dan proyek pengolahan air limbah domestik bagi 300 ribu rumah tangga.

Tidak dapat dipungkiri bahwa World Water Forum memang membuka peluang investasi. Salah satu area investasi yang menarik adalah pengembangan infrastruktur air bersih dan sanitasi. Pasalnya, masih banyak daerah di Indonesia yang belum memiliki akses yang memadai terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi yang layak. Investasi dalam pembangunan sumur, sistem penyediaan air minum, dan pengolahan air limbah akan sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk Indonesia. World Water Forum dapat menjadi platform bagi pemerintah untuk mempresentasikan proyek-proyek infrastruktur air yang sedang direncanakan dan memperoleh dukungan finansial dari sektor swasta dan lembaga keuangan internasional.

Selain itu, World Water Forum juga dapat memperkuat kerja sama antara Indonesia dan negara-negara lain dalam hal manajemen sumber daya air. Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemimpin regional dalam inisiatif pertukaran pengetahuan dan teknologi terkait air. Melalui kolaborasi dengan negara-negara maju yang telah mengatasi tantangan serupa dalam manajemen air, Indonesia dapat memperoleh akses terhadap teknologi canggih dan praktik terbaik yang dapat diterapkan di dalam negeri. Ini akan menciptakan peluang investasi dalam transfer teknologi dan kemitraan strategis antara perusahaan Indonesia dan mitra internasional.

Selain itu, investasi dalam konservasi ekosistem air juga dapat menjadi opsi yang menarik bagi investor dalam negeri. Hutan-hutan yang sehat berperan penting dalam menjaga ketersediaan air, mengatur tata air, dan melindungi daerah aliran sungai dari bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Melalui program restorasi hutan dan rehabilitasi lahan basah, Indonesia dapat tidak hanya menjaga keberlanjutan sumber daya air, tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan mendukung ekonomi lokal. World Water Forum terbukti dapat menjadi ajang untuk mempromosikan program-program konservasi air dan menarik investor yang peduli terhadap lingkungan untuk berpartisipasi dalam upaya-upaya ini.

Secara keseluruhan, gelaran WWF ke-10 di Bali tidak hanya merupakan sebuah acara internasional yang prestisius, tetapi juga merupakan peluang emas bagi Indonesia untuk mengangkat profilnya sebagai destinasi investasi yang menjanjikan, khususnya dalam sektor air. Dengan memanfaatkan momentum ini dengan baik, Indonesia dapat menjadikan sektor air sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif di masa depan.

)* Penulis merupakan mahasiswa STIE Satya Dharma Singaraja

WWF ke-10 Gali Potensi Kerja Sama Global Terkait Air

Oleh : Sophia Kei )*

Kepercayaan dunia yang diberikan kepada Indonesia untuk menjadi tuan rumah World Water Forum (WWF) ke-10 di Bali merupakan prestasi diplomasi sekaligus tanggung jawab besar kepemimpinan dalam merumuskan solusi inovatif pengelolaan air bagi seluruh dunia. Hal tersebut tentunya membantu penyelesaian krisis air yang saat ini sedang terjadi.

Penyelenggaraan WWF ke-10 ini sudah melalui tiga tahapan proses: Thematic Process, Regional Process, dan Political Process. Setiap tahap memfasilitasi diskusi mendalam mengenai sub-tema krusial, dari upaya reduksi bencana terkait air, kerja sama, hidro-diplomasi hingga inovasi pembiayaan dan pengetahuan/teknologi.

WWF ke-10 juga membuka peluang kerja sama global dalam pencarian solusi dan inovasi memanfaatkan air untuk keberlangsungan kehidupan bersama di seluruh dunia. Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dan Perdana Menteri (PM) Tajikistan Qohir Rasulzoda membahas penguatan kerja sama dalam pengelolaan sumber daya air.

Indonesia dan Tajikistan menekankan pentingnya kerja sama internasional untuk mengatasi tantangan global terkait air. Indonesia terus berkomitmen untuk bekerja sama menjamin keberlanjutan kualitas air bersih demi kesejahteraan bersama. WWF di Bali menunjukkan bahwa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat global memiliki komitmen dalam menjaga serta mengelola sumber daya air.

PM Rasulzoda mengakui bahwa Indonesia merupakan mitra penting di kawasan dan tertarik untuk memperkuat kerja sama multilateral serta saling menguntungkan hubungan antara kedua negara. PM Rasulzoda juga menyampaikan apresiasinya atas peran konstruktif Indonesia dalam urusan regional dan internasional.

Senada juga disampaikan Kepala Sekretariat Dewan SDA Nasional Kemen PUPR, Yunitta Chandra Sari bahwa pihaknya berharap WWF ini menciptakan momentum yang sangat penting bagi kerja sama global dalam menjaga dan memanfaatkan air .

Indonesia perlu menunjukkan kepada dunia, bahwa sebagai bagian dari masyarakat global memiliki kesadaran dan komitmen yang kuat serta serius untuk menjaga serta mengelola air sebagai aset yang berharga dan harus dilestarikan, untuk keberlangsungan hidup kita serta generasi mendatang.

Melalui kolaborasi lintas negara, sektor, dan generasi, maka dapat menciptakan solusi yang inovatif dan berkelanjutan dalam mengelola air demi mencapai tujuan bersama menuju perdamaian, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.

Pada WWF ke-10 tersebut seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat berkontribusi dalam pemahaman dan pemecahan masalah terkait isu air untuk mencapai pengelolaan yang berkelanjutan.

Pemerintah Indonesia mengajak seluruh pihak untuk berpartisipasi aktif dalam WWF ke-10. Inovasi dan kontribusi nyata sangat diperlukan untuk mewujudkan masa depan air yang berkelanjutan.

Pemerintah juga berkomitmen mendorong negara-negara serta para pemangku kepentingan bidang air di seluruh dunia untuk menempatkan isu-isu terkait air pada puncak agenda global.

Pada event ini diharapkan dapat menjadi platform pengambilan keputusan untuk menempatkan isu air sebagai prioritas utama pada tingkat global agar semua pihak bisa memberikan kualitas air yang lebih baik demi kualitas hidup masyarakat yang lebih baik di masa depan.

Pemerintah Indonesia juga berharap agar penyelenggaraan WWF ke-10 tidak sebatas melahirkan dokumen atau deklarasi saja, tetapi juga mampu menjawab tantangan air global dan menciptakan akses air bersih secara berkeadilan di setiap negara.

Saat ini kesenjangan hak atas air diperparah dengan dampak perubahan iklim. Itu mengakibatkan, air sesuatu yang harusnya membuat kita sejahtera, justru dapat menjadi bencana seperti kekeringan dan banjir.

Oleh karena itu, seluruh pihak pada momen WWF ke-10 untuk berkolaborasi bersama membangun kolaborasi multi-helix. Kolaborasi multi-helix tersebut bertujuan untuk membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana--di mana kerja sama dan koordinasi dilakukan melalui lintas sektor dan lintas batas.

Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi semua pihak untuk dapat menyatukan modalitas dan meningkatkan kapasitas. Salah satu platform untuk menghimpun sinergi adalah melalui forum dialog internasional dan ini akan kita bangun bersama di Bali dalam WWF ke-10.

WWF ke-10 dihadiri oleh ribuan peserta dari berbagai negara. Sehingga para duta besar memiliki peran penting dalam mensosialisasikan acara WWF ke-10 agar lebih banyak peserta yang berkontribusi dalam forum ini dalam rangka untuk menghadapi dan mengatasi bersama persoalan global utaanya adalah krisis air dan krisis iklim.

Dalam mengatasi persoalan air, diperlukan keterlibatan pimpinan negara, parlemen, menteri, pemimpin daerah, dan otoritas pengelola air di cekungan-cekungan (basin authorities) dalam rangka menentukan arah demi menyelesaikan masalah yang terjadi berdasarkan data dan kasus di lapangan. Kekuatan politik ini diharapkan dapat mengikat seluruh pihak untuk kerja kolektif menyelesaikan masalah air di dunia.

Diharapkan ada opsi lanjutan yaitu deklarasi para menteri untuk mewujudkan kesejahteraan air untuk bersama serta ditargetkan adanya centre of excellence on water and climate resilience.

Peran aktif Indonesia dalam WWF ke-10 juga mencerminkan keseriusan negara dalam menangani masalah air di tingkat domestik. Ini adalah kesempatan untuk menggalang dukungan internasional, mendapatkan akses ke teknologi terbaru, dan berbagi praktik terbaik dalam pengelolaan sumber daya air. Tidak hanya itu, forum ini juga menjadi sarana untuk mempromosikan pentingnya diplomasi air dalam menjaga perdamaian dan kerjasama internasional, terutama di kawasan yang rentan konflik sumber daya air.

)* Penulis Mahasiswa Hubungan Internasional

Sistem Perairan Subak Dengan Kearifan Lokal Opsi Tata Kelola Air di WWF Bali

Oleh : Candrasah Ayu)*

Indonesia memperkenalkan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya air pada gelaran World Water Forum (WWF) ke-10. Salah satu kearifan lokal dalam pengelolaan air tersebut adalah Subak di Bali.

Subak adalah sebuah organisasi yang dimiliki oleh masyarakat petani di Bali yang khusus mengatur tentang manajemen atau sistem pengairan atau irigasi sawah secara tradisional. Subak bukan hanya sebuah sistem pengairan, tetapi juga mencerminkan filosofi dan kearifan lokal masyarakat Bali yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Krisis air telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Dalam beberapa dekade terakhir, kita telah menyaksikan peningkatan konsumsi air yang tidak seimbang, polusi air, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem air yang mempengaruhi keberlanjutan sumber daya air kita.

Mengenai hal tersebut, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hilmar Farid menyebutkan Indonesia memiliki opsi yang berasal dari budaya dalam negeri bahwa masyarakat yang berada di hilir bisa merasakan manfaat pengelolaan air yang sifatnya berkelanjutan di hulu memberikan dukungan kepada masyarakat yang di hilir.

Sistem solidaritas yang dibangun itu sebetulnya juga jika diproyeksikan di masa sekarang dengan dukungan sains dan teknologi modern mungkin bisa menjawab sebagian persoalan pengelolaan air yang bijak dan lestari, Kearifan lokal di Bali diharapkan bisa mewarnai kebijakan tentang air di tingkat global pada World Water Forum (WWF) ke-10 ini.

WWF ke -10 yang tengah diadakan di Bali merupakan upaya kolaborasi tangguh mengatasi tantangan perubahan iklim dapat memperkuat konsensus politik di tingkat lokal, nasional, dan internasional di tengah ketidakpastian kondisi iklim di seluruh dunia.

High Level Meeting yang diadakan dalam WWF ke-10 di Bali merupakan pertemuan bersama penanggung jawab proses politik, tematik, dan regional serta pertemuan bilateral beberapa kepala negara menyangkut masalah air. Mulai dari pembahasan anggaran air sedunia, diplomasi air dan perdamaian hingga observatorium dunia untuk sumber daya air non-konvensional dan energi terbarukan yang nantinya dapat merumuskan suatu kebijakan resolusi pengelolaan air sedunia.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan berdasarkan hasil dari banyak analisa lembaga iklim dunia, kondisi iklim dan cuaca saat ini terus mengalami ketidakpastian salah satunya diakibatkan belum terkendalinya pembuangan gas rumah kaca CO2 di atmosfer.

Kondisi ketidakpastian tersebut mengakibatkan timbulnya cuaca ekstrem; baik kekeringan maupun hujan di atas kenormalan rata-rata yang dampaknya tidak hanya membuka peluang timbulnya degradasi sosial-kesehatan masyarakat tetapi juga mempengaruhi kondisi finansial atau ekonomi suatu negara.

Salah satu substansi penting WWF di Bali adalah Indonesia sebagai tuan rumah ataupun para delegasi lainnya untuk bersama – sama merumuskan gagasan ataupun komitmen yang bisa menjadi konsensus untuk mengatasi permasalahan tata kelola air maupun dampak yang ditimbulkan akibat kondisi iklim saat ini.

Dwikorita menilai konsensus yang mengikat itu adalah poin terpenting yang akan dihasilkan WWF Ke-10, karena artinya kepala negara-negara peserta sepakat untuk mengeksekusi segenap rencana aksi yang sudah disusun secara saintifik berbasis ekosistem dan peristiwa alam oleh negara masing-masing.

Adapun rencana aksi nyata tersebut menyangkut mitigasi perubahan iklim dan menghapus kesenjangan antara tantangan dan kapasitas masing-masing negara dalam hal pengelolaan sumber daya air, iklim, pangan, energi, dan kesehatan.

BMKG menyebut, peningkatan emisi gas rumah kaca menjadi penyebab utama krisis air. Ini berdampak pada peningkatan laju suhu udara yang mengakibatkan pemanasan global yang terus berlanjut hingga berdampak pada fenomena perubahan iklim.


Perubahan iklim ini nantinya memicu berbagai krisis, seperti krisis air, pangan, bahkan energi. Selain itu, frekuensi, intensitas, dan durasi kejadian bencana hidrometeorologi turut meningkat. Apabila dibiarkan, BMKG menyebutkan krisis air akan menimbulkan dampak lainnya, yakni krisis pangan, krisis energi, dan krisis sosial. Menurut laporan World Meteorological Organization (WMO), berbagai krisis ekstrem ini telah terjadi di berbagai belahan dunia.

Oleh karena itu, mitigasi dan adaptasi secara sistematis terhadap isu-isu yang berkaitan dengan air sangat diperlukan. Ini dilakukan melalui observasi, monitoring, dan pengumpulan data. Data-data yang telah dikumpulkan kelak menjadi landasan bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan kebijakan terhadap krisis air. Data tersebut pun bisa menjadi acuan untuk melakukan mitigasi sebelum bencana datang.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan sebagai bagian dari mitigasi krisis air, antara lain sebagai berikut. Pertama, menghemat air. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan tidak melakukan pemborosan pada penggunaan air. Kita bisa mematikan kran atau saluran air ketika tidak digunakan. Selain itu, manfaatkan air yang dapa digunakan kembali, misalnya air cucian beras untuk menyiram tanaman.

Selanjutnya, tidak membuang sampah di saluran air. Membuang sampah di saluran air berdampak pada kurangnya kualitas air. Sehingga, air yang didapat tidak bersih. Oleh sebab itu, membuang sampah pada tempatnya merupakan langkah yang bijak untuk mengatasi masalah ini.

Lalu, melakukan reboisasi. Dalam hal ini pohon memiliki peran penting sebagai mitigasi krisis air. Akarnya berfungsi untuk menyerap air ke dalam tanah. Semakin banyak pohon yang ditanam, cadangan air yang tersimpan akan semakin banyak. Terakhir, membuat tempat penampungan hujan. Selain reboisasi, menampung air hujan dapat menjadi alternatif lain. Membangun tempat penampungan air hujan menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kesediaan air. Terlebih, ini juga sebagai langkah mencegah krisis air.

)* Penulis merupakan pemerhati lingkungan

Di WWF Bali, Indonesia Serukan Pentingnya Pengelolaan Air Berkelanjutan Hadapi Tantangan Perubahan Iklim

Bali – Indonesia, sebagai tuan rumah World Water Forum (WWF) ke-10, menyerukan kepada seluruh peserta delegasi WWF dan para stakeholder terkait pentingnya pengelolaan air berkelanjutan, terutama dalam menghadapi permasalahan perunahan iklim saat ini.

Presiden Jokowi menegaskan tiga prinsip dasar air bagi kemakmuran bersama. Pertama, menghindari persaingan dan mendorong pemerataan. Kedua, mengedepankan kerja sama inklusif, termasuk penggunaan teknologi dan pembiayaan inovatif. Terakhir adalah menyokong perdamaian dan kemakmuran bersama. Ketiga hal tersebut hanya bisa terwujud melalui kolaborasi.

“World Water Forum 2024 harus menjadi momentum berbagai negara di dunia guna merevitalisasi aksi nyata dan komitmen bersama dengan berbagai pengetahuan, mendorong solusi inovatif, dan mewujudkan manajemen sumber daya air (SDA) yang terintegrasi.” ujar Presiden Jokowi

Hal itu juga relevan dengan pernyataan periset Badan Riset dan Inovasi Nasional, Budi Heru Sentoso yang sekaligus sebagai komite Nasional untuk UNESCO - Intergovernmental Hydrologycal Prgramme (IHP) yang melaporkan Pembangunan Air Dunia PBB 2024.

“Air untuk Kemakmuran dan Perdamaian menyampaikan Intergovernmental Hydrologycal Programme (IHP-IX) berfokus pada empat tugas. Pertama meningkatkan pemahaman ilmiah air, kedua yaitu penguatan kapasitas dan tata kelola air. Ketiga ada pembinaan kolaborasi dan kemitraan dan yang terakhir meningkatkan kesadaran masyarakat,” ujar Budi.

Budi menyatakan World Water Forum menjadi momentum yang baik untuk BRIN, misalnya dapat menjadi forum untuk melakukan kolaborasi terkait riset dalam skala global maupun pembahasan mengenai inovasi untuk memperluas berbagai permasalahan tentang air.

“Dalam kegiatan World Water Forum 2024, ribuan peserta hadir dari seluruh dunia dari beragam latar belakang, termasuk peserta yang berlatar belakang riset dan inovasi. Dalam World Water Forum ini BRIN bertemu dengan pihak-pihak terkait riset dan inovasi baik dalam dan luar negeri untuk memperluas kemitraan riset dan inovasi,” ujar Budi.

Ia juga menyampaikan pentingnya kolaborasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan kelangsungan sumber daya air. “Kita memerlukan kolaborasi dalam bidang perencanaan dan pengambilan keputusan untuk infrastruktur air serta mempromosikan penggunaan air berkelanjutan,” ujar.

Ia mengajak berbagai pihak yang diperlukan untuk menjadi partisipasi aktif terkait dalam kegiatan tanggap bencana yang berhubungan dengan air. “BRIN dapat membantu menyadarkan kita semua tentang pentingnya menghemat air dan menjaga konservasi air di Indonesia,” pungkas Budi.

Pada WWF ke-10, dirilis pada akhir pertemuan tingkat menteri World Water Forum ke-10 yang dihadiri oleh 106 negara dan 27 organisasi internasional.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono menjelaskan, dalam deklarasi itu Indonesia sebagai tuan rumah World Water Forum mengusung tiga prioritas utama:
Pertama, pendirian Pusat Keunggulan (Center of Excellence) untuk ketahanan air dan iklim guna mengembangkan kapasitas pengetahuan (knowledge), berbagi (sharing), dan pemanfaatan fasilitas yang unggul.

“Sebagai negara kepulauan, Indonesia wajib berada di garda depan untuk mendorong inovasi dalam pengelolaan air dan sanitasi. Center of Excellence itu bukan hanya untuk warga negara Indonesia tapi juga untuk negara-negara South South atau mungkin Asia Pasifik,” kata Menteri Basuki.

Kedua, mengangkat isu pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) secara terpadu dan pada pulau-pulau kecil.

Meskipun dikelilingi perairan yang luas, Indonesia dinilai tetap memerlukan sistem tata kelola air yang baik untuk mengatasi tantangan kualitas dan ketersediaan air bersih.

Ketiga, pengusulan Hari Danau Sedunia (World Lake Day).

Sebab, danau merupakan sumber pasokan air yang menghidupi manusia sekaligus memiliki fungsi sosial dan ekonomi masyarakat.

Peringatan Hari Danau Sedunia ini tidak simbolis namun sebagai salah kunci utama menjaga kelestarian danau sedunia.

“Kita harus menjaga itu untuk menjaga hidupnya. Itulah gunanya peringatan Hari Danau Sedunia,” imbuh Menteri Basuki.

Selain deklarasi Menteri, lanjut Menteri Basuki, salah satu yang menjadi capaian pada forum internasional ini adalah berhasilnya Indonesia menyusun daftar proyek terkait air yang menjadi andalan dari berbagai negara.

WWF 2024 Sepakati Penanganan Isu Air Sebagai Agenda Prioritas

Nusa Dua, Bali – World Water Forum (WWF) ke-10 yang diselenggarakan di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) berhasil menyusun suatu komunike sebagai wujud upaya bersama parlemen untuk mengatasi krisis air.

"Kita telah meneguhkan komitmen-komitmen untuk memperbaiki alokasi sumber daya dan anggaran yang proporsional untuk air bersih," kata Ketua DPR RI, Puan Maharani.

Puan pun menekankan pentingnya terobosan untuk ketahanan air demi kemakmuran masyarakat dunia. Ia mengatakan, telah berhasil dibahas poin-poin penting untuk rekomendasi sejalan dengan tema WWF ke-10 dalam pertemuan parlemen.

Temanya adalah Mobilizing Parliamentary Action on Water for Shared Prosperity yang berarti air untuk kesejahteraan seluruh manusia tanpa terkecuali.

"Bersama-sama kita sepakat untuk menjadikan isu air sebagai agenda prioritas parlemen di negara kita masing-masing dan juga pada tingkat global," ujar Puan.

Puan mengajak seluruh multipihak terkait bersama-sama memperkuat komitmen untuk menyediakan air bersih tanpa status sosial, agama, dan ekonomi.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian mengatakan negara-negara di dunia perlu menegaskan kembali komitmennya terhadap ketahanan air.

“Saya yakin bahwa kita semua memiliki komitmen dan dukungan yang sama untuk mencapai ketahanan air dalam menghadapi tantangan saat ini dan masa depan. Kolaborasi antarpemerintah sangat penting untuk mengarusutamakan Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu di semua tingkatan,” kata Mendagri saat memimpin forum pertemuan tingkat menteri.

Tito menekankan, akses terhadap air minum yang bersih dan aman bukan hanya sekedar Hak Asasi Manusia (HAM), tetapi merupakan landasan kesehatan, martabat, dan kesejahteraan masyarakat.

“Mari kita tegaskan kembali komitmen kita untuk menjadikan air minum bersih dapat diakses oleh semua orang, melalui inovasi dan kolaborasi,” tegasnya.

Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memaparkan bahwa forum air terbesar di dunia tersebut harus menjadi momentum negara-negara di dunia untuk merevitalisasi aksi nyata dan komitmen bersama dengan berbagi pengetahuan, mendorong solusi inovatif, dan mewujudkan manajemen sumber daya air terintegrasi.

“Ini untuk meneguhkan komitmen dan merumuskan aksi nyata terkait pengelolaan air inklusif dan berkelanjutan,” ujar Jokowi.

Hal ini dikatakan Presiden RI, karena air memegang peran penting dan sentral bagi kehidupan umat manusia. Bahkan begitu pentingnya hingga air disebut sebagai the next oil di masa depan.

Untuk itu, Indonesia mengangkat empat inisiatif baru, yaitu penetapan World Lake Day, pendirian Center of Excellence di Kawasan Asia Pasifik untuk ketahanan air dan iklim, tata kelola air yang berkelanjutan di negara-negara pulau kecil, dan penggalangan proyek-proyek air untuk memastikan komitmen politik kita menjadi aksi nyata.

“Air bukan sekadar produk alam, tetapi produk kolaborasi yang saling menghubungkan dan mempersatukan kita. Preserving water is our collective responsibility,” pungkas Presiden Jokowi.

WWF Bali Rancang Proyek Penyediaan Air Minum Bagi 3,3 Juta Keluarga di Dunia Termasuk Indonesia

Bali – Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan perhelatan World Water Forum (WWF) ke – 10 di Bali saat ini sedang merancang proyek penyediaan air minum dan pengelolaan limbah untuk 3,3 juta keluarga didunia termasuk di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat ditemui awak media di ITDC The Nusa Dua Badung Bali.

Menurutnya, ada sekitar 113 proyek senilai US$ 9,4 miliar yang saat ini sedang dirancang dan disusun. Ratusan proyek tersebut ditujukan untuk menyediakan air minum yang layak  bagi 3,3 juta rumah tangga didunia. Selain itu juga peruntukan proyek – proyek tersebut untuk pengolahan limbah bagi 300 ribu keluarga.

"Daftar proyek yang menjadi andalan dari berbagai negara sebanyak 113 proyek senilai US$ 9,4 miliar. Antara lain proyek percepatan pengadaan air minum bagi tiga juta rumah tangga dan pengolahan air limbah bagi 300 ribu rumah tangga," jelasnya.

Semua proyek itu dapat segera terealisasi sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Terutama untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat di negara-negara kepulauan yang pernah dibahas dalam forum Archipelagic and Island States (AIS) 2023, harap Basuki.

"Berbagai proyek ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat di berbagai negara. Tidak hanya untuk Indonesia,"tutur Basuki.

Selain ratusan proyek tersebut, ada juga hal lain yang dibicarakan antara Indonesia dengan negara-negara peserta WWF yang terangkum dalam deklarasi para menteri. Antara lain, usulan Hari Danau Sedunia oleh Indonesia, ungkapnya.

Basuki mengatakan danau berfungsi sebagai bendungan alam dan sumber pasokan air yang penting bagi manusia, acapnia.

Dengan begitu, Hari Danau Sedunia nantinya juga bertujuan melestarikan eksistensi danau. Kemudian, soal pendirian center of excellence untuk ketahanan air dan iklim. Tujuannya, berbagi pengetahuan untuk dorong pengembangan dan inovasi pengelolaan air dan sanitasi di Indonesia dan negara-negara Asia Pasifik.

Pada kesempatan yang berbeda, hal senada juga disampaikan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Dr. Endang Hilmi. Endang Halim menilai World Water Forum (WWF) Ke-10 yang digelar di Bali merupakan ajang penting untuk menjaga keberlangsungan sumber daya air bagi kehidupan manusia.

"Ini karena World Water Forum merupakan forum internasional sektor air yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dunia," kata Endang Hilmi.

Ia mengatakan kegiatan yang diadakan oleh World Water Council (WWC) atau Dewan Air Dunia itu jelas akan membahas tentang permasalahan, tantangan, dan prospek keberlanjutan (sustainability) air di dunia.

"Dalam konteks ini, sebagai akademisi saya berpikir bahwa World Water Forum di Bali ini harus menjadi momentum untuk memastikan seluruh dunia bergerak bersama dalam menjaga keberlangsungan sumber daya air bagi kehidupan manusia. Dalam bahasa sederhananya adalah water for people life atau air bagi kehidupan manusia," katanya.

Menurutnya, momentum tersebut memberikan suatu misi khusus bagi Indonesia agar dalam pertemuan WWF 2024 itu disepakati tiga misi khusus yang meliputi Pusat Keunggulan Ketahanan Air dan Iklim (Center of Excellence on Water and Climate Resilience), pengelolaan air terpadu di pulau-pulau kecil, dan penetapan World Lake Days atau Hari Danau Sedunia.

Ia mengatakan hal itu didasari atas peran danau yang menjadi salah satu sumber bahan baku, energi, hingga pengendali banjir.

"Selain itu, momentum ini harusnya juga dijadikan sebagai suatu promosi bahwa negara Indonesia memiliki beberapa konsep penting, yaitu membangun sinergisitas antara semua stakeholder (pemangku kepentingan) baik pemerintah, masyarakat, akademisi, private sector, dan media," pungkasnya.

Kaya Pengalaman, Indonesia Berhasil Gelar WWF ke-10 dan Hasilkan Aksi Konkret Tata Kelola Air

Bali - Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan Forum Air Dunia atau World Water Forum (WWF) ke-10 sejak 20-25 Mei 2024. Masyarakat pun optimis, Pemerintah sukses menggelar ajang bergengsi tersebut.

Meningkatnya risiko kelangkaan dan ketersediaan air membuat isu ketahanan air menjadi sangat penting. Oleh karena itu, isu ini telah menjadi salah satu prioritas dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

"Besarnya tantangan ini menuntut kita untuk memobilisasi pendekatan sumber pendanaan baru dan pengurangan risiko guna menciptakan kepercayaan investor terhadap upaya pembangunan ketahanan, khususnya di bidang infrastruktur air, melalui Global Water Fund," kata Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan pada High Level Panel (HLP) World Water Forum ke-10 di Bali.

Menko Marves Luhut menuturkan, Global Water Fund yang merupakan blended finance adalah pendekatan penataan keuangan yang menggabungkan berbagai bentuk modal untuk mendukung tujuan bersama, terutama dalam investasi kompleks yang berpotensi membangun ketahanan masyarakat dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Pendekatan ini melibatkan penggunaan dana publik atau filantropis untuk menarik modal swasta, terutama untuk proyek-proyek yang mungkin dianggap terlalu berisiko atau tidak langsung menghasilkan keuntungan.

"Hal ini dapat digunakan untuk mengatasi kesenjangan pendanaan, mengurangi risiko investasi, dan merangsang pertumbuhan ekonomi dan inovasi. Indonesia memprakarsai G20 Bali Global Blended Finance (GBFA) yang akan menjembatani kesenjangan pendanaan untuk tujuan-tujuan isu iklim dan SDGs dengan pendekatan yang dipimpin oleh daerah, serta didedikasikan untuk memfasilitasi negara-negara berkembang, negara-negara kurang berkembang (LDCs), dan kerja sama Selatan-Selatan untuk meningkatkan proses transisi," tambah Menko Marves Luhut.

Pada acara yang sama, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan Kementerian Keuangan akan terus mendukung terbentuknya Global Water Fund karena dalam mewujudkan ketahanan air dan sanitasi yang layak membutuhkan kolaborasi antar pemerintah dan pihak swasta.

“Nanti kita dari Kementerian Keuangan bisa membantu teman-teman PUPR. Seperti pengalaman kita membuat seperti pandemic fund gitu ya. Sehingga nanti dari situ kita bisa lihat bagaimana pembentukan suatu funding. Apalagi pada tingkat dunia itu bisa dilakukan,” kata Sri Mulyani.

Menkeu menambahkan, upaya pembentukan Global Water fund tengah diupayakan Pemerintah Indonesia untuk dibahas bersama para pemangku kepentingan (stakeholder) dari berbagai negara dan organisasi.

Ad Placement

kabar luar negeri

booming

kabar dalam negeri